Temuan Peneliti LIPI Selama Ekspedisi Widya 2016 di Sulbar dan Papua Barat

Gdg LIPI
Foto : Pramono

BOGOR – Sebagai lembaga penelitian terbesar di Indonesa, Kembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memiliki mandat sebagai scientific authority dalam pengelolaan keanekaragaman hayati dan ekosistemnya. Dengan mandat tersebut, LIPI berupaya mengeksplorasi dan menyingkap segala keanekaragaman hayati yang masih tersembunyi di berbagai pelosok nusantara.

Tahun ini, LIPI turunkan tim peneliti ke Taman Nasional Laiwangi Wanggameti, Sumba, Gunung Gandang Dewata, Sulawesi Barat, serta Kabupaten Tambrauw, Papua Barat pada 14 April – 29 April 2016.

Tim peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan penelitian melalui Ekspedisi Widya Nusantara (E-Win) 2016 . Dari ekspedisi ini, tim penelitian berhasil menemukan berbagai jenis catatan dan kandidat spesies baru.

Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, Enny Sudarmonowati mengatakan melalui kegiatan ini, LIPI memadukan penelitian dasar eksploratif dengan mengidentifikasi kekayaan hayati Indonesia, mencari potensi pengembangan dan inovasi untuk pangan, obat-obatan, energi dan pemanfaatan lainnya.  Tidak hanya itu, penelitian terkait kondisi sosial masyarakat terkini juga dilakukan.

“Temuan-temuan ini akan menjadi sumber rekomendasi untuk kebijakan pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA), penguatan kapasitas masyarakat di bidang pendidikan, ketahanan pangan, ekonomi, dan mitigasi bencana,” sambungnya dalam siaran pers LIPI, Rabu (25/5/2016).

Dari kegiatan E-Win di Sumba, Tim berhasil mengkoleksi 266 Spermatophyta dan 15 Pteridophyta. Di samping tumbuhan, tim juga berhasil mengkoleksi 84 jamur makro yang tergolong pada kelompok Basidiomycota dan Ascomycota serta 223 koleksi lumut-lumutan. Sementara itu, sebanyak 726 jenis tumbuhan berhasil dikoleksi dan di tanam sebagai koleksi hidup di Kebun Raya Bogor.

Tim dengan keahlian hewan juga berhasil mendokumentasikan sebanyak 19 jenis hewan mamalia, 633 spesimen Drosophilid dan 54 spesimen burung. Pada eksplorasi tersebut, sebanyak 42 jenis pohon yang berpotensi untuk material bangunan, 28 jenis jamur perusak kayu, 3 jenis serangga perusak dan 2 jenis kumbang kayu juga dikoleksi.

Untuk pengembangan bahan obat, sebanyak 37 sampel tumbuhan, 26 sampel jamur makro dan 65 isolat jamur endofit dikumpulkan, serta 45 sampel tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai bahan pangan oleh masyarakat lokal. “Tim mengisolasi 150 isolat aktinomisetes,  130 isolat khamir, 100 isolat bakteri dan 24 isolat algae yang saat ini masih dalam tahapan skrining untuk mengungkapkan potensinya,” ungkap koordinator tim Sumba, Oscar Efendi.

Ditambahkan oleh peneliti Puslit Biologi LIPI, Ary P. Keim , beberapa catatan baru yang berhasil ditemukan oleh tim dari Sumba adalah Freycinetia rigidifolia dari suku pandan yang belum pernah dilaporkan sebelumnya dari kawasan timur Flora Malesiana atau di sebelah timur garis Wallace. Dari hewan, terdapat tiga koleksi spesimen tikus yang berhasil dikoleksi.

“Ini  merupakan tambahan penting untuk menjelaskan kedekatannya dengan fauna mamalia kelompok Timor, yang berdasarkan ciri-ciri morfologi menunjukkan tikus ini berasal dari wilayah timur atau Sahulland,” ungkap  Maharadatunkami, peneliti mamalia di Puslit Biologi. (asr).

Sumber Berita : ERA BARU

Leave a Reply