Ekspedisi LIPI Temukan Sejumlah Kandidat Spesies Baru

kandidatBogor – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menemukan beragam flora, fauna endemik dan sekitar 14 kandidat spesies baru dalam ekspedisi yang dilakukan di Sumba, Sulawesi Barat dan Papua Barat. Ekspedisi bernama Ekspedisi Widya Nusantara (EWIN) 2016 dilaksanakan 14 April- 29 April 2016 ini, melibatkan 97 peneliti dan teknisi dari berbagai disiplin ilmu yakni kebumian, hayati dan sosial kemanusiaan.

Koordinator Tim Ekspedisi EWIN LIPI Sumba, Sulawesi Barat dan Papua Barat, Andria Agusta, mengatakan, pihaknya memperkirakan lebih dari 14 spesies kandidat baru ditemukan dalam ekspedisi di tiga lokasi tersebut.

“Untuk memastikan spesies flora atau fauna merupakan spesies baru perlu sejumlah langkah dan waktu yang bervariasi,” katanya di sela-sela Konferensi Pers Hasil Eksplorasi Bioresources 2016 di Gedung Kusnoto, Pusat Penelitian dan Pengembangan Biologi LIPI, Bogor, Rabu (25/5).

Andria menjelaskan, langkah memastikan spesies baru dilakukan melalui analisis morfologi dengan penentuan ciri-ciri fisik. Melihat perbedaan atau kesamaan dengan yang sudah ditemukan sebelumnya. Kemudian, lanjut dia, dilakukan analisis DNA, tumbuhan atau mikroba diambil sampel DNAnya untuk dibandingkan dengan bank data DNA yang ada.

“Setelah data di laboratorium sudah didapat barulah didesiminasikan dalam publikasi internasional,” ucapnya.

Sementara, kata Andria, untuk flora atau fauna berpotensi entah untuk pangan atau obat-obatan (biprospeksi) ada dua pendekatan yakni berbasis informasi masyarakat dan random screening di laboratorium. “Kita mencari tahu informasi masyarakat lokal apa yang sudah mereka pakai untuk pangan dan obat,” ujarnya.

Andria mencontohkan, dari informasi masyarakat di Tambrauw, Papua Barat ada rumput kebar yang diyakini dapat membantu kesuburan organ reproduksi wanita.

Demikian pula di daerah Sumba, ada mikroba dalam gua yang ada di tetasan air dalam gua yang dipercaya bisa menyembuhkan luka karena mengandung antibiotik.

Dari kegiatan EWIN di Sumba, tim berhasil mengkoleksi 266 Spermatophyta dan 15 Pteridophyta. Di samping tumbuhan, tim juga berhasil mengkoleksi 84 jamur makro yang tergolong pada kelompok Basidiomycota dan Ascomycota serta 223 koleksi lumut-lumutan.

Sementara itu, sebanyak 726 jenis tumbuhan berhasil dikoleksi dan di tanam sebagai koleksi hidup di Kebun Raya Bogor. Tim dengan keahlian hewan juga berhasil mendokumentasikan sebanyak 19 jenis hewan mamalia, 633 spesimen Drosophilid dan 54 spesimen burung.

Koordinator Tim Sumba, Oscar Efendi, mengungkapkan pada eksplorasi tersebut, sebanyak 42 jenis pohon yang berpotensi untuk material bangunan, 28 jenis jamur perusak kayu, 3 jenis serangga perusak dan 2 jenis kumbang kayu juga dikoleksi.

Untuk pengembangan bahan obat, sebanyak 37 sampel tumbuhan, 26 sampel jamur makro dan 65 isolat jamur endofit dikumpulkan, serta 45 sampel tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai bahan pangan oleh masyarakat lokal.

“Tim mengisolasi 150 isolat aktinomisetes, 130 isolat khamir, 100 isolat bakteri dan 24 isolat algae yang saat ini masih dalam tahapan skrining untuk mengungkapkan potensinya,” katanya.

Sementara itu, kegiatan eksplorasi di Gunung Gandangdewata tim menemukan beberapa flora dan fauna yang merupakan kandidat jenis baru. Dari kelompok botani, kandidat jenis baru antara lain jahe-jahean (Zingiberaceae) dari marga Etlingera dengan perawakan besar tinggi hampir 2 meter.

Jenis fauna dari Gunung Gandangdewata yang memiliki potensi sebagai kandidat jenis baru juga ditemukan, antara lain tikus yang memiliki nama lokal Lewa – Lewa dan Kambola. Sedangkan kelompok herpetofauna juga menemukan katak dari genus Limnonectes dan Oreophryne, serta kadal dari genus Sphenomorphus yang juga merupakan kandidat spesies baru.

Selain temuan-temuan ini, tim penelitian melakukan inventarisasi mikroba untuk melihat keanekaragamannya dan potensi pemanfaatannya terutama dalam bidang energi.

Untuk daerah Tambrauw, Papua Barat, Koordinator Tim Hari Nugroho mengatakan, dari 435 spesimen tumbuhan yang berhasil dikoleksi ditemukan beberapa catatan penting berupa kandidat jenis baru dari tumbuhan Semecarpus sp dan intra spesifik jenis Diospyros sp.

Selanjutnya Hari menjelaskan bahwa telah berhasil dikoleksi sebanyak 10 jenis hewan endemik Papua yang terdiri dari katak, kadal ular dan bunglon.

Dari kawasan yang minim informasi ini juga telah berhasil diisolasi 50 isolat aktinomisetes, 150 isolat bakteri, 150 isolat khamir dan 48 isolat algae yang akan diskrining potensinya sebagai energi alternatif dan bahan obat.

Sumber Berita

Suara Pembaruan

Ari Supriyanti Rikin/FER

Suara Pembaruan

Leave a Reply