Temuan LIPI Ini Kemungkinan Jenis Katak Baru dari Sulawesi

posted in: Sulawesi Barat | 0
Limnonectes cf. modestus - jenis yang hidup di sungai namun status taksonomi (dalam ilmu pemberiaan nama) dalam kelompok atau klasifikasi masih memerlukan kajian yang lebih mendalam. Foto: Eko Rusdianto
Limnonectes cf. modestus – jenis yang hidup di sungai namun status taksonomi (dalam ilmu pemberiaan nama) dalam kelompok atau klasifikasi masih memerlukan kajian yang lebih mendalam. Foto: Eko Rusdianto

Perjalanan selama 3,5 jam menuju basecamp peneliti LIPI di kaki Gunung Gandang Dewata, melewati tanjakan dan menyeberangi aliran air, tak membuat Amir Hamidy kelelahan. Menggunakan balutan kain di kepala, celana pendek, sepatu boot semata kaki, dia begitu lincah.

Tiba mejelang sore, ketika kabut mulai turun menyelimuti dahan-dahan pohon. Puncak gunung terlihat memutih.

Menjelang malam, ketika sudah makan, dia berganti kostum. Pakaian kedap air, sepatu laras tinggi, headlamp, tas punggung kecil, dan togkat berujung bengkok mirip kail. Amir Hamidy, bersama dua orang akan menyusuri pesisir sungai dan rimbun pohon, mencari katak, kodok, dan reptil lain. “Mau merekam suara kodok juga,” katanya.

“Dia memang seorang scientis (ilmuan), tak ada waktu terbuang. Selalu memaksimalkan,” seloroh Tri Haryoko, peneliti burung LIPI.

Amir Hamidy, peneliti herpet dari LIPI. Tak banyak bicara. Tanpa ekspresi. Dia berbeda dengan puluhan rekan peneliti lain yang ikut bersama dalam ekspedisi Bioresourches Keragaman Hayati di Gunung Gandang Dewata.

Beberapa jam kemudian, Hamidy kembali ke camp. Malam itu dia tak mencari spesiemen, melainkan merekam suara kodok di alam liar. Beberapa hari sebelumnya, tim herpet telah mengumpulkan beberapa sepesimen. Suara kodok tak berhasil direkam di alam liar akhirnya dipilih dengan telaten. Dimasukkan ke kantong plastik menggelembung, bersama potongan tangkai dan daun.

Sejumlah hewan amfibi itu dibawa serta masuk dalam tenda. Di jejerkan rapi dekat lembaran matras. Malam ini, dia juga hendak merekam suara hewan itu, sebelum menjadi spesimen dan diangkut ke LIPI.

Dua kandidat

Kamis (27/4/16), sekitar pukul 10.00, ketika udara basecamp mulai terasa hangat, proses fiksasi (pembuatan spesimen) dimulai. Proses ini dengan penuh kehati-hatian, karena setiap individu harus benar-benar  terawetkan baik–agar kelak dalam penelitian, pengukuran, hingga deskripsi secara fisik tetap terjaga.

Untuk fiksasi, peralatan cukup sederhana. Ada sarung tangan. Masker. Spoit dan jarum. Ada formalin dan alkohol.

Di Sulawesi katak pohon endemik Sulawesi ada dua. Totol kuning dan hitam. Namun keduanya dari jenis Rhacophorus edentulus.Foto: Eko Rusdianto
Di Sulawesi katak pohon endemik Sulawesi ada dua. Totol kuning dan hitam. Ini masuk jenis Rhacophorus edentulus. Foto: Eko Rusdianto

Setiap satu individu yang selesai di-fiksasi akan dibenamkan pada cairan alkohol di wadah kecil. Dari tempat itulah, Amir mengangkat hewan-hewan kecil itu dengan penjepit. Dijejerkan lembut dan hati-hati dalam boks kotak kecil. Ekor kadal dibuat melengkung mengukuti bagian tubuh. Katak dan kodok, kaki belakang, diatur seperti hendak melompat. Jari-jari terbuka.

“Apakah ada temuan baru,” tanya saya.

“Belum tahu. Semua ini endemik Sulawesi,” katanya.

“Ada kemungkinan, dua ini kandidat. Mungkin jenis baru.”

Saya begitu bahagia dengan percakapan itu. Hamidy, tetap dingin. Tak seantusias beberapa rekan peneliti lain. “Emang gitu mas. Dia mah orangnya flat, tidak seperti saya exiting, jika ada yang baru,” kata Anang Setiawan Achmadi, peneliti tikus LIPI.

Dua kandidat jenis baru itu Limnonectes sp dan Oreophryne sp, yang diperkirakan endemik Sulawesi.

Individu katak dari Limnonectes sp untuk jenis betina warna dominan coklat. Empat paha, memiliki garis-garis hitam. Selaput diantara jari-jari berwarna hitam. Bentuk lucu. Bagian rahang dan pundak agak besar. Katak ini seperti memiliki pipi montok. Saya menjuluki katak cibi–alias chubby.

Untuk jantan ukuran lebih kecil. Jika dilihat dari atas, bagian punggung memiliki dua garis putih lurus bermula dari pangkal mata, hingga ke pinggul. Pinggiran garis putih, muncul benjolan-benjolan kecil.

Oreophryne sp adalah katak kecil ukuran antara satu sampai dua sentimeter, ditemukan di sekitaran basecamp. Katak jantan jenis ini, bertugas menjaga telur hingga mejadi berudu. Warna coklat muda. Oreophryne sp jenis Papuan lineage.

Tak hanya katak kadidat jenis baru yang menarik perhatian. Individu lain bernama latin Limnonectes cf. modestus (endemik Sulawesi) juga tak kalah unik. Katak jenis ini hidup di sungai. Badan seperti dilapisi kulit tebal mirip baju perang bangsa Roma. Kelihatan begitu keras, ketika disentuh cukup lembut.

Limnonectes cf. modestus, kata  Hamidy taksonominya masih dalam kajian. Kajian nama untuk memasukkan kelompok dan klasifikasi dalam pencantuman nama terus berlangsung.

Saya melihat Hamidy memegang satu per satu hewan ini. Dia seperti pawang herpet.  Ketika memulai memotret katak, dia mengarahkan dengan penuh kesabaran. “Memotret katak harus sudut 45 derajat, supaya mata dan sisi tubuh kelihatan,” katanya.

Untuk ular dan kadal, selain tampilan hewan utuh, paling utama membuat fokus pada kepala. Gunanya untuk melihat pola sisik.

Tak mudah memotret hewan liar. Sekali waktu mereka melompat, merayap dan mencoba melarikan diri.

Dalam rantai ekosistem, katak memiliki fungsi sangat spesifik. Selain mangsa predator seperti ular, juga memangsa nyamuk dan serangga kecil lain. Katak dapat mengindikasikan jika hutan dan sumber air sekitar masih bersih. “Jika hutan dirambah, jadi kebun, katak pasti hilang,” kata Hamidy. “Jadi dalam perubahan lingkungan katak sangat riskan.”

Hylarana macrops,- endemik Sulawesi. Foto: Eko Rusdianto
Hylarana macrops, endemik Sulawesi. Foto: Eko Rusdianto

Individu katak hutan dewasa dalam berkembang biak, tak begitu cepat. Setiap katak dewasa hanya mampu bertelur hingga 10 butir, dalam perjalanan yang menjadi anakan sekitar lima. Untuk beberapa jenis katak hutan, individu dewasa meletakkan telur di daun di dekat air.

Telur-telur siap menetas akan terjatuh ke air dan menjadi berudu. Usia telur menjadi berudu ke katak mencapai satu bulan. Bila air tercemar dan kotor, berudu akan lama. “Bisa lebih sebulan. Kalau air bersih,  dari berudu ke katak bisa kurang sebulan.” Usia katak dewasa antara tiga hingga empat tahun.

Di Gandang Dewata, Hamidy dan tim herpet, mencari di ketinggian 1.700 mdpl. Selama ekspedisi itu, dominasi fauna yang dikumpulkan dari Asia lineage. Penemuan itu tidaklah begitu mengherankan dimana beberapa juta tahun lalu, bagian Selatan dan Barat Sulawesi secara geologi merupakan pecahan daratan sundaland yang menghubungkan dengan daratan Asia lain.

Rhacophorus monticola - katak pohon gunung endemik Sulawesi. Foto: Eko Rusdianto
Rhacophorus monticola – katak pohon gunung endemik Sulawesi. Foto: Eko Rusdianto
Sphenomorphus variegatus. Foto: Eko Rusdianto
Sphenomorphus variegatus. Foto: Eko Rusdianto

 

Editor :

Sumber Berita : MONGABAY

 

 

Leave a Reply