Papua Barat, Episentrum Keanekaragaman Hayati Dunia

posted in: Lengguru | 0
Ekspedisi Lengguru Papua 2014 menemukan 30 amfibi dan 50 reptil | Foto: :LIPI Ekspedisi Ilmiah Lengguru 2014 menguak potensi luar biasa Papua Barat sebagai pusat keanekaragaman hayati dunia.
Ekspedisi Lengguru Papua 2014 menemukan 30 amfibi dan 50 reptil | Foto: :LIPI Ekspedisi Ilmiah Lengguru 2014 menguak potensi luar biasa Papua Barat sebagai pusat keanekaragaman hayati dunia.

VARIA.id, Jakarta – Selama ini, Papua Barat hanya dikenal dengan destinasi Raja Ampat yang mendunia. Kenyataannya, provinsi ini masih menyimpan banyak kekayaan lain yang belum terekspos. Salah satunya adalah keanekaragaman hayati di Kabupaten Kaimana. Ekspedisi Lengguru 2014 berhasil menguak potensi luar biasa yang menjadi rumah bagi spesies endemik Papua. Spesias ini hanya ada di Papua dan sebagian Papua Nugini. Dengan ekspedisi ini Papua bisa dinobatkan sebagai pusat keanekaragaman hayati terbesar di dunia.
“Ekspedisi ini merupakan proyek ilmiah terbesar di Indonesia. Melibatkan 70 peneliti lokal dan mancanegara multidisiplin dengan pendekatan molekuler, morfologi, ekologi, geologi, serta paleontology,” ujar Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Iskandar Zulkarnain dalam konferensi pers di Gedung LIPI Jakarta, 28 November 2014.
Catatan LIPI, hingga kini belum ada catatan zoologi maupun botani mengenai Lengguru secara mendalam. Padahal wilayah ini memiliki luas sebesar Sardinia, pulau terbesar kedua di Italia. Sebelumnya, seorang ahli ikan asal Australia G. Allen menjadi orang pertama yang menulis mengenai beberapa jenis ikan di wilayah perbatasan Lengguru. Dalam sejarah geologis, pegunungan Lengguru memiliki peran signifikan terhadap proses diversifikasi biologi dan memungkinkan menjadi rumah bagi ratusan spesies endemik tertua di Papua Nugini dan di wilayah kepala burung
Papua.
Awalnya, penelitian ini sudah digagas sejak 2010 oleh peneliti Indonesia-Perancis untuk mengumpulkan data awal keanekaragaman hayati. Selanjutnya, selama 360 hari (17 Oktober hingga 20 November 2014) sebanyak 50 peneliti Indonesia dan 20 peneliti Eropa melakukan Ekspedisi Ilmiah Lengguru 2014 atas kerja sama LIPI dengan I’institut de Rechere pour le Development (IRD) dan Akademi Perikanan Sorong (Apsor).
Ekspedisi ini mencakup tiga wilayah dan lima kampung di Kabupaten Kaimana, yaitu Buruway (Nusa Ulan), Arguni Atas (Wanoma&Urisa), dan Teluk Triton (Lobo dan Kamaka). Penelitian dibagi berdasarkan jenis lingkungan, yaitu di darat, bawah tanah dan laut dengan cara pengambilan sampel di sungai, danau, gunung, serta beberapa tipe hutan dari permukaan laut sampai puncak antiklinal setinggi 1.400 mdpl. Termasuk melakukan penjelajahan dan pemetaan gua, doline (lubang yang berbentuk corong yang terjadi karena erosi atau karena runtuhan), serta jalur sungai
bawah tanah, dan terakhir penjelajahan dan pemetaan di laut, serta batimetri bagian karst di kedalaman laut, tebing karang serta danau endorheik (daerah aliran sebuah sungai dan cabang-cabangnya yang terintegrasi).
Hasil identifikasi terdapat ratusan spesies flora dan fauna tergolong endemik Papua dan sebagian lainnya merupakan jenis baru. Di darat berhasil ditemukan 37 spesies capung dengan 8 jenis endemik, lalu kupu-kupu 110 spesies dengan 4 jenis endemik, juga ditemukan 50 spesies reftil, 30 spesies amfibi dan 10 calon spesies baru pada reftil amfibi. Pada kalajengking terdapat 3 spesies dan 1 endemik Papua, lalu dua spesies kalacemeti dan 1 spesies baru pada jenis laba-laba. Pada mamalia terdapat 20 spesies kelelawar, 8 spesies tikus, dan 5 spesies lain belum
terindentifikasi.
Temuan langka yang unik pada jenis burung dengan 7 kandidat baru, salah satunya adalah Mambruk yang memiliki jambul unik bertengger di kepalanya. Burung ini hidup di dataran rendah dan termasuk jenis burung dara terbesar di dunia karena memiliki berat 5 kg. Lalu endemik Kadal Duri (tribolonotus novae) karena memiliki bagian putih pada pupil matanya dan memiliki panjang 15 cm pada ukuran dewasa. Sedangkan temuan flora terdapat 600 nomor di koleksi untuk jenis anggrek, palem, jambu-jambuan, dan jahe-jahean.
Sedangkan dari hasil penyelaman di laut ditemukan ratusan jenis terumbu karang endemik yang belum pernah ditemui di daerah lain, di antaranya jenis hard coral 141 spesies, 53 genus, 16 famili. Jenis akar bahar (gorgonians) 8 famili dan 200 spesies dikoleksi. Echinoderms 60 spesies (23 star sea, 18 sea cucumber, 9 brittle stars. Lalu moluska 65 famili (300 jenis) juga nudibranch dan cumi-cumi, termasuk krinoid (indikator kerusakan terumbu karang) dan ikan hias yang sangat melimpah.
“Ekspedisi ini seperti menemukan harta karun. Selalu penuh kejutan karena dari jenis reptil amfibi saja kami menemukan 80 jenis dan 400 spesies baru. Salah satunya adalah Ular Putih (micropechis ikaheka) yang memiliki panjang 1 meter dan termasuk sangat berbisa di dunia. tingkatan bisa-nya (racun-red) di atas jenis King Cobra namun masih di bawah level ular afrika Black Momba,” ungkap Peneliti Herpetologi Museum Zoologi Bogor (MZB) Evy Arida.
Saat ini, semua analisis sampel biologi dibawa ke Laboratorium Zoologi dan Pusat Penelitian Biologi di Cibinong, sedangkan analisis barcoding molecular dilakukan bersama IRD dan LIPI. Adapun analisis yang tidak bisa dilakukan di Indonesia akan dibawa ke luar negeri melalui perizinan Pengiriman Material dalam bentuk ekstraks DNA atau spesimen.
Gugusan Karst Bawah laut
Peneliti IRD asal Perancis Laurent Pouyaud mengungkapkan kekagumannya pada kekayaan Papua Barat sejak melakukan penelitian pertama kali tahun 2007. Saat itu, dia meneliti ikan Pelangi, jenis ikan unik karena tubuh dan sisiknya mampu berubah warna seperti pelangi.
Sebagai seorang peneliti ikan dan air tawar, dia penasaran untuk menggali lebih lanjut kawasan tersebut. Dari situlah dia menemukan sistem sungai bawah tanah dan membuktikan bahwa Papua Barat merupakan salah satu episentrum tektonik dunia yang letaknya tepat berada di leher pulau Papua.
Secara geologis, kawasan ini merupakan rangkaian sedimen kapur (karst) yang terus bergerak akibat aktivitas tektonik sejak 10 juta tahun lalu. Kini, lapisan sedimen karst tersebut mulai terkikis akibat erosi sehingga terjadi kenaikan lapisan sedimen sekitar 5-10 cm per tahun, dan beberapa mulai muncul di permukaan laut.
“Terkikisnya sedimen karst membuat ikan Pelangi yang sebelumnya terisolir mulai bermunculan dan berakumulasi. Kami menduga, di sinilah sumber nenek moyang ikan Pelangi karena jumlahnya sangat banyak, bahkan kami menemukan 7-8 ikan Pelangi jenis baru,” ungkap Laurent.
Tentunya, Laurent tak sekedar bekutat pada urusan ikan melulu. Interaksi dengan masyarakat lokal juga menjadi fokus perhatian, salah satunya, potensi sungai yang ditelusurinya, “ikan memang penting tapi apakah hanya itu? Karena tujuan kami juga untuk membantu masyarakat di sana agar mereka bisa berkembang. Salah satunya sungai Lenggoro yang berpotensi menjadi pembangkit listrik microhydro (pembangkit listrik tenaga air-red) dengan kemampuan 10 mega watt.”
Berikut ini foto-foto temuan Ekspedisi Ilmiah Lengguru 2014 yang dilaksanakan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) bekerjasama  dengan I’institut de Rechere pour le Development (IRD) Perancis dan Akademi Perikanan Sorong (Apsor).

Peta Lengguru Papua. Foto: LIPI
Peta Lengguru Papua. Foto: LIPI
Spesies baru jangkrik. Foto: LIPI
Spesies baru jangkrik. Foto: LIPI

Spesies baru kalajengking Papua. Foto: LIPISpesies baru kalajengking Papua. Foto: LIPI

Spesies baru mamalia, kelelawar Papua. Foto: LIPI
Spesies baru mamalia, kelelawar Papua. Foto: LIPI

Spesies baru burung Papua. Foto: LIPI Spesies baru burung Papua. Foto: LIPI

Spesies baru burung Papua. Foto: LIPI Spesies baru burung Papua. Foto: LIPI

Ikan Pelangi Papua. Foto: LIPI
Ikan Pelangi Papua. Foto: LIPI

Anggrek baru Papua. Foto: LIPI Anggrek baru Papua. Foto: LIPI
Editor: Ulin Yusron

 

Artikel ini ditulis oleh VARIA : Senin, 1 Desember 2014 | 00:22 WIB

Leave a Reply