Ada Burung Romantis dan Kadal Langka di Pedalaman Papua

posted in: Lengguru | 0
Burung
Peneliri menemukan 1.400 nomor spesimen (VIVAnews/Agus Tri Haryanto)

Ekspedisi Lengguru menemukan setidaknya 1.400 nomor spesies.
VIVAnews - Para peneliti yang tergabung Ekspedisi Lengguru 2014 mengungkapkan Indonesia masih mempunyai kekayaan hayati yang belum terjamah, terutama di pedalaman Kabupaten Kaimana, Papua Barat.

Ekspedisi tersebut merupakan gabungan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Biologi bekerjasama dengan I’Istitut de Rechere pour le Development (IRD), Akademi Perikanan Sorong (Apsor), Dinas Perikana dan Kelautan Kabupaten Kaimana, Universitas Negeri Papua, Universitas Cendrawasih, dan Universitas Musamus.

Penelitian ini melibatkan sekitar 50 staf peneliti dan teknisi asal Indonesia, sedangkan 27 staf peneliti dan teknisi berasal dari luar negeri.

Sejak dilakukannya ekspedisi dari tanggal 17 Oktober hingga 20 November 2014, para peneliti tersebut berhasil menemukan setidaknya 1.400 nomor spesimen, dimana 50 berpotensi merupakan spesies baru.

Seperti penemuan Kadal Duri Papua (Tribolonotus novae). Hewan jenis reptil ini mempunyai ukuran sekitar 15 sentimeter, yang mana matanya berwarna putih, berbedanya dan belum pernah ditemukan pada hewan sejenisnya.

Kemudian, ada bowerbird atau burung Namdur, yang merupakan burung romantis, di mana sang jantan akan membuat rumah terbuat dari ranting, rerumputan, dan hiasan lainnya untuk memikat sang betina. Hewan ini dikatakan jenis burung yang hanya ditemui di Pulau Papua.

“Ekspedisi multidisiplin ini memadukan pendekatan molekuler, morfologi, ekologi, serta paleontologi. Pendekatan tersebut akan memberikan peluang melakukan uji kapasitas jejaring karst di Papua Barat sebagai reservoir kuno, pusat endemisitas, maupun tempat lahirnya keanekaragaman hayati,” ujar Laurent Pauyaud, peneliti dari IRD di Gedung LIPI, Jakarta, Jumat 28 November 2014.
Masih Murni

Laurent menambahkan selama ekspedisi, peneliti harus menyelami lautan, menjelajahi hutan, dan mendaki gunung untuk menemukan keanekeragaman hayati yang belum terungkap.

Pada kesempatan yang sama, Gono Semiadi mengatakan selama ekspedisi tersebut secara keseluruhan, peneliti harus menyelami minus 100 meter dibawah permukaan lautan hingga diatas 1.400 meter diatas permukaan laut (mdpl).

“Di Kaimana sendiri merupakan wilayah yang masih murni alam, belum ada perkebunan sawit. Jadi, masih yang belum terungkap keanekaragaman hayatinya,” kata dia.

Meski sudah menemukan jenis-jenis baru di lautan, tanaman, hingga hewan. Tim Ekspedisi Lenggur ini perlu tenaga ahli untuk memastikan 1.400 nomor spesimen yang ditemukan oleh mereka.

“Kalau para ahli tersebut banyak bisa enam bulan beres tapi kalau ahlinya sedikit, maka paling lama butuh satu tahun untuk konfirmasi penemuan tersebut. Namun, dipastikan 50 spesies merupakan baru dan endemik,” jelas Gono.

Artikel ini ditulis oleh VIVA NEWS : Jum’at, 28 November 2014, 15:40

Leave a Reply