Tikus Aneh dari Gandang Dewata Memakan Akar untuk Hidup

posted in: Sulawesi Barat | 0
Tikus
Tikus akar (Gracilimus radix)

KOMPAS.com – Ketika tim ilmuwan membedah perut seekor tikus yang ditemukan di Gunung Gandang Dewata, mereka menemukan sesuatu yang mengejutkan.

Alih-alih menemukan jenis-jenis makanan yang biasa ditemukan pada tikus lainnya, tim ilmuwan justru menemukan akar-akar yang telah dicerna.

Analisis morfologi dan genetika mengungkap bahwa karakteristik tikus tersebut begitu unik sehingga kemudian dinobatkan sebagai genus baru.

Genus adalah taxa di atas spesies. Satu genus mencakup banyak spesies. Umumnya penelitian taksonomi mengungkap spesies baru. Riset ini unik karena menemukan genus sekaligus spesies baru.

Jenis tikus itu dinamakan Gracilimus radix. Gracilimus berarti ramping, radix berarti akar. Sederhananya, tikus itu disebut tikus akar. Temuannya dipublikasikan di Journal of Mammalogy.

Tikus itu ditemukan oleh Anang Setiawan Achmadi dari Museum Zoologi Bogor, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), beserta Kevin Rowe dari Museum Victoria dan Jacob Esselstyn dari Lousiana State University saat menjelajah Gandang Dewata pada tahun 2012.

Dalam penjelajahan, mereka dibantu oleh warga dari desa Rantepangko, sebuah desa di Mamasa, kota paling dekat dengan Gandang Dewata.

“Kita namakan tikus akar karena memang membedah perutnya, kita banyak menemukan material tumbuhan, terutama akar,” ungkap Anang kepada Kompas.com, Jumat (8/4/2016).

Tikus akar masuk golongan cecurut, merupakan genus ketiga dan spesies keempat yang ditemukan di Gandangdewata dalam empat tahun terakhir.

Unik, Punya Saudara Beda Alam

Rowe menuturkan, tikus akar merupakan spesies yang unik. Hewan berwarna hitam kecoklatan itu sebenarnya masuk dalam golongan tikus pemakan daging.

Namun, tak seperti saudara-saudaranya yang hanya doyan daging, tikus akar juga gemar memakan tumbuhan. Tikus akar adalah satu-satunya omnivora dalam kerabatnya.

Analisis genetika mengungkap, G radix memiliki kekerabatan paling dekat dengan Waiomys mamasae. Namun, keduanya hidup di alam berbeda.

“Satu berevolusi untuk berenang di perairan (W mamasae) dan satu hidup di darat (G radix). Namun demikian, secara evolusi, mereka berkerabat,” jelas Rowe.

Rowe mengatakan, sepanjang sejarah, setidaknya telah ditemukan 27 tikus unik dari Gandang Dewata. Itu menunjukkan kualitas hutan yang baik di wilayah itu.

“Keragaman hewan pengerat ini adalah indikator dari keragaman mamalia, burung, dan hewan serta tumbuhan di hutan itu,” jelas Rowe.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bulan ini kembali berangkat ke Gandang Dewata untuk melakukan survey keragaman hayati.

Anang mengatakan, data yang dihasilkan dari survei tersebut diharapkan bisa menjadi rekomendasi bagi pemerintah untuk menetapkan gandangdewata sebagai taman nasional.

Sumber : KOMPAS

Leave a Reply