LIPI Coba Kuak Keterkaitan Sumba dan Sulbar

posted in: Sulawesi Barat, Sumba | 0

sumbaLEMBAGA Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) akan membuktikan sejarah Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur yang dipercaya pada 60 juta tahun lalu merupakan bagian dari Sulawesi Barat.

Oleh karena itu, nantinya Ekspedisi yang digagas LIPI Ekspedisi Widya Nusantara (E-WIN) akan membagi tim menjadi dua kelompok kedua lokasi tersebut.

“Kalau di Sulawesi Barat, kami akan teliti keanekaragaman hayati Gunung Gandang Dewata, yang merupakan dataran tingginya, kalau dataran rendah ya di Sumba itu,” ucap Koordinator Ekspedisi Amir Hamidy saat ditemui Media Indonesia di Jakarta, Jumat (8/4).

Menurut Amir, kegiatan akan difokuskan untuk melihat kekhasan keanekaragaman hayati masing-masing wilayah dan mencari kesamaan dua wilayah tersebut.

Itu sebabnya, akan dikerahkan 60 hingga 70 orang tim ekspedisi.

Sementara itu, Kepala LIPI Iskandar Zulkarnain dalam kesempatan yang sama menyatakan Sumba berpisah dengan gugusan Sulawesi Barat 60 juta tahun yang lalu dan berada di lokasi 9,9 derajat lintang selatan sejak 20 juta tahun yang lalu.

“Jadi ada pergerakan 28 derajat yang dialami selama 40 juta tahun,” terang Iskandar.

Kawasan tersebut, lanjut Iskandar, memiliki sumber daya alam darat dan laut yang tinggi serta unik karena berada di bagian selatan Zona transisi wallacea.

Yaitu tempat bertemu transisi karakteristik biografi Indo-Malaya dan Australia.

Oleh karena itu, tingkat keberagaman dan endemisitas yang tinggi dari wilayah tersebut dapat dijadikan modal dasar pembangunan berkelanjutan dan meningkatkan daya saing Indonesia, terutama dalam sumber daya genetik.

“Setiap kegiatan penelitian termasuk eksplorasi bioresurcess yang akan dilakukan diharapkan dapat membawa kontribusi scientific yang signifikan, serta membawa perubahan,” tambah Iskandar.

Secara statistik, lanjut Iskandar, masyarakat Sumba merupakan masyarakat yang kurang sejahtera.

Itu sebabnya, penelitian dengan tujuan pengembangan pemanfaatan sumber daya perlu dilakukan di kawasan tersebut.

Kondisi tersebut, tidak lepas dari sejarah masyarakat Sumba yang membagi diri menjadi kelas bangsawan, petani, dan budak.

“Nah sekarang yang sejahtera itu ya kelas bangsawan, oleh karena itu, perlu penelitian untuk mendongkrak kelas lainnya,” tukas Iskandar. (Ric/H-2)

Sumber : Media Indonesia

Leave a Reply