Enggano si pulau kuciwa, berbatasan dengan India

posted in: Enggano | 0

Pulau 400,6km2 yang dihuni 2.600-an jiwa ini berbatasan dengan wilayah India. Namanya Pulau Enggano — diduga dari kata Portugis “engano“, artinya “kecewa“. Pulau ini adalah satu dari sekitar 92 pulau terluar di Indonesia. Letaknya di Kabupaten Bengkulu Utara, Bengkulu.

Berikut ini foto dan laporan Virna Puspa Setyorini dari Antara bersama Ekspedisi Widya Nusantara (EWIN) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, April 2015 lalu.

Ya, empat bulan lalu. Tapi hari ini dan esok banyak hal tentang Indonesia yang harus dan terus kita rawat.

FAJAR DI DERMAGA |  Matahari terbit dari ujung pelabuhan khusus untuk kapal perintis di Desa Malakoni, Enggano, Bengkulu. Pelabuhan perintis ini hanya disandari kapal perintis 15 hari sekali dari Kota Bengkulu

FAJAR DI DERMAGA | Matahari terbit dari ujung pelabuhan khusus untuk kapal perintis di Desa Malakoni, Enggano, Bengkulu. Pelabuhan perintis ini hanya disandari kapal perintis 15 hari sekali dari Kota Bengkulu
© Virna Puspa Setyorini /Antara
DANAU BIRU | Air Danau Bak Blau di pesisir Desa Meok, Enggano, Bengkulu, saat surut. Danau ini bersumberkan mata air tawar yang kemudian bercampur dengan air laut.

DANAU BIRU | Air Danau Bak Blau di pesisir Desa Meok, Enggano, Bengkulu, saat surut. Danau ini bersumberkan mata air tawar yang kemudian bercampur dengan air laut.
© Virna Puspa Setyorini /Antara
SIPUT TANAH | Siput Leptopoma nitidum ini berukuran kurang dari dua centimeter,  berwana hijau, ditemukan pada daun yang dikoleksi oleh tim peneliti botani Pusat Penelitian Biologi LIPI dari hutan sekunder di Desa Banjarsari, Enggano, Bengkulu.

SIPUT TANAH | Siput Leptopoma nitidum ini berukuran kurang dari dua centimeter, berwana hijau, ditemukan pada daun yang dikoleksi oleh tim peneliti botani Pusat Penelitian Biologi LIPI dari hutan sekunder di Desa Banjarsari, Enggano, Bengkulu.
© Virna Puspa Setyorini /Antara
JAMUR | Satu dari ratusan sampel fungi yang dikumpulkan oleh penelti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia di hutan sekunder Desa Banjarsari, Enggano, Bengkulu.

JAMUR | Satu dari ratusan sampel fungi yang dikumpulkan oleh penelti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia di hutan sekunder Desa Banjarsari, Enggano, Bengkulu.
© Virna Puspa Setyorini /Antara
PULAU PISANG | Tumpukan tandan pisang kepok dan bawean dari Pulau Enggano di atas kapal feri Pulo Tello saat dikirim ke Kota Bengkulu. Enggano memasok ribuan tandan pisang hingga 10 ton sekali kirim ke Kota Bengkulu.

PULAU PISANG | Tumpukan tandan pisang kepok dan bawean dari Pulau Enggano di atas kapal feri Pulo Tello saat dikirim ke Kota Bengkulu. Enggano memasok ribuan tandan pisang hingga 10 ton sekali kirim ke Kota Bengkulu.
© Virna Puspa Setyorini /Antara
SANGKAKALA | Mantan Kepala Desa Meok Sunaidi (50) meniup cangkang keong laut berukuran besar yang disebut Kamiang di teras rumahnya di Desa Meok, Enggano, Bengkulu. Kamiang yang  dapat menghantarkan bunyi hingga tiga kilometer ini biasanya ditiupkan kepala desa untuk mengumpulkan, minta pertolongan, atau memberi tanda bahaya kepada warga.

SANGKAKALA | Mantan Kepala Desa Meok Sunaidi (50) meniup cangkang keong laut berukuran besar yang disebut Kamiang di teras rumahnya di Desa Meok, Enggano, Bengkulu. Kamiang yang dapat menghantarkan bunyi hingga tiga kilometer ini biasanya ditiupkan kepala desa untuk mengumpulkan, minta pertolongan, atau memberi tanda bahaya kepada warga.
© Virna Puspa Setyorini /Antara
BURUNG HANTU | Seekor anakan burung hantu yang belum diketahui jenisnya ditangkap di salah satu hutan sekunder di Desa Meok, Enggano, Bengkulu. Para peneliti burung LIPI dalam Ekspedisi Widya Nusantara 2015 mengumpulkan sejumlah burung endemik, termasuk di antaranya burung hantu enggano (Otus enganensis), betet ekor panjang (Psittacula longicauda), burung kacamata (Zosterop salvadorii), dan anis kembang (Zoothera interpres).

BURUNG HANTU | Seekor anakan burung hantu yang belum diketahui jenisnya ditangkap di salah satu hutan sekunder di Desa Meok, Enggano, Bengkulu. Para peneliti burung LIPI dalam Ekspedisi Widya Nusantara 2015 mengumpulkan sejumlah burung endemik, termasuk di antaranya burung hantu enggano (Otus enganensis), betet ekor panjang (Psittacula longicauda), burung kacamata (Zosterop salvadorii), dan anis kembang (Zoothera interpres).
© Virna Puspa Setyorini /Antara

Leave a Reply