LIPI Temukan Spesies Endemik Baru di Gunung Tambora

posted in: Tambora | 0
kelelawar
ilustrasi/ist

JAKARTA – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang tergabung bersama tim Ekspedisi NKRI temukan enam spesies baru di Gunung Tambora. Ekspedisi ini dilakukan dalam rangka eksplorasi potensi kekayaan hayati untuk memperingati 200 tahun letusan Tambora. Menariknya, beberapa temuan tersebut merupakan spesies endemik.

“Beberapa spesies yang ditemukan merupakan spesies endemik Nusa Tenggara Barat (NTB). Spesies endemik yang ditemukan yaitu satu spesies kelelawar, enam spesies burung endemik Nusa Tenggara Barat dan beberapa spesies baru diyakini merupakan spesies yang sebarannya sangat terbatas,” ungkap Peneliti Pusat Penelitian (Puslit) Biologi LIPI, Dr. Cahyo Rahmadi dalam siaran pers kepada Radarpena.com kemarin (11/5).

Ketua tim LIPI dalam ekspedisi tersebut menuturkan, untuk kondisi hutan di jalur pendakian Kawinda Toi masih sangat bagus. “Kondisi kekayaan spesies flora dalam setengah hektar mencapai 22 spesies, dan Elaeocarpus batudulangi merupakan spesies endemik dari kelompok flora,” imbuh Cahyo seraya mengatakan Pohon tersebut memiliki karakteristik sebagian besar daunnya telah menguning dan kemudian gugur yang merupakan ciri umum hutan daerah kering.

Menurut Cahyo, eksplorasi ini berhasil mengkoleksi dan mendata informasi kekayaan dan potensi hayati yang ada di Tambora. Adapun spesies yang banyak dijumpai sepanjang jalur pendakian Kawinda Toi, yaitu Duabanga moluccana Blume, Engelhardia spicata Lech. ex Blume, Acronychia trifoliata Zoll, dan Syzigium spp.

Tim juga berhasil mencatat 46 spesies burung dimana tiga spesies merupakan burung migran, 21 spesies reptil dan empat spesies amfibi dari berbagi marga. “Jumlah spesies ini dapat bertambah setelah dilakukan kajian lebih mendalam untuk mengenali setiap spesies yang dikoleksi,” tegasnya.

Sementara itu, untuk kelompok mamalia sedikitnya ditemukan 10 spesies terdiri tiga spesies kelelawar, tiga spesies tikus, satu spesies primata, satu spesies musang dan beberapa mamalia lain seperti babi dan rusa yang banyak ditemukan melintas di jalan. Pada kelompok kerabat kalajengking, kalacemeti dan laba-laba ditemukan sedikitnya 10 spesies dengan rincian satu spesies kalajengking, satu spesies kalacemeti, satu spesies kalacuka, tiga spesies opiliones dan lebih dari empat spesies laba-laba.

“Keanekaragaman kalajengking maupun laba-laba relatif rendah dengan kondisi hutan yang masih sangat bagus seperti di jalur pendakian Kawinda Toi,” tutur Cahyo.

Untuk kelompok serangga seperti kupu-kupu malam tercatat sedikitnya 230 spesies dari ketinggian 100 mdpl dan 500 mdpl. “Pada kelompok Tawon sedikitnya ditemukan 27 spesies, dan dua spesies lebah madu yang sangat potensial nilai ekonominya.,” urainya.

Diketahui, Kepulauan Indonesia memiliki potensi besar yang belum terungkap, baik sumber daya alam hayati, keunikan budaya, dan potensi kelautannya. Salah satu wilayah yang belum terungkap potensinya adalah Gunung Tambora yang terletak di Pulau Sumbawa. Gunung ini terletak di ketinggian 2.851 mdpl dan masuk ke wilayah Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.

Memperingati 200 tahun letusan besar Tambora, LIPI telah mengirimkan tim untuk melakukan eksplorasi pada 16 April lalu. Kegiatan eksplorasi ini melibatkan 48 orang, meliputi 16 orang dari LIPI, tujuh orang tim Ekspedisi NKRI, enam orang dari Kantor Seksi Konservasi Wilayah III Bima Dompu, serta masyarakat setempat.

Eksplorasi ini berhasil mengoleksi dan mendata informasi kekayaan dan potensi hayati yang ada di Tambora. Temuan yang paling menarik adalah beberapa spesies yang diyakini merupakan spesies baru, khususnya dari kelompok fauna, dan pertama kali ditemukan di Gunung Tambora. “Sedikitnya ada enam spesies baru terdiri dari dua spesies cicak (reptil), dua spesies kupu-kupu malam dan dua spesies kalacemeti, serta opiliones,” ungkap Deputi Ilmu Pengetahuan Hayati (IPH) LIPI, Prof. Dr. Enny Sudarmonowati. Temuan ini akan memberikan kontribusi pada pengetahuan keanekaragaman hayati di Indonesia, khususnya Gunung Tambora, lanjutnya.

Sumber : RADAR PENA

Leave a Reply