LIPI Gelar Dua Ekspedisi dalam Sekali Pelayaran

posted in: Widya Nusantara | 0

JAKARTA, KOMPAS Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia mengirimkan tim penelitian dengan Kapal Riset Baruna Jaya VIII menuju perairan di barat Sumatera selama bulan Mei 2015. Dalam satu rangkaian pelayaran, tim melaksanakan dua ekspedisi secara berurutan, yakni Ekspedisi Widya Nusantara untuk meneliti Samudra Hindia Timur, dan Ekspedisi Sabang yang berfokus pada area perairan Sabang.

Nusantara
Kompas/Johanes Galuh Bimantara Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indroyono Soesilo melepas keberangkatan tim Ekspedisi Widya Nusantara dan Ekspedisi Sabang, Kamis (7/5), di Pelabuhan Nizam Zachman, Muara Baru, Jakarta Utara. Tim Ekspedisi Widya Nusantara akan meneliti Samudra Hindia Timur, sedangkan Ekspedisi Sabang akan meneliti perairan Sabang.

Dua ekspedisi ini ditujukan untuk memperkuat visi kemaritiman Indonesia. “Kita tidak hanya akan bicara keanekaragaman hayati, tetapi juga potensi pemanfaatan sumber daya kelautan,” kata Kepala LIPI Iskandar Zulkarnain saat melepas tim ekspedisi di Pelabuhan Nizam Zachman, Muara Baru, Jakarta Utara, Kamis (7/5).

Iskandar mengatakan, potensi pemanfaatan itu bisa berupa budidaya biota-biota laut untuk menjadi sumber pendapatan. Potensi lain adalah energi alternatif, seperti yang bersumber dari gelombang, arus laut, dan mikroalga. Ekspedisi riset kelautan memungkinkan penggalian potensi-potensi tersebut.

Tim LIPI berangkat dari Pelabuhan Nizam Zachman untuk melaksanakan Ekspedisi Widya Nusantara lebih dulu dengan rute melalui Selat Sunda ke perairan Pulau Enggano, kemudian berlabuh di Padang, Sumatera Barat. Sejumlah kru akan berganti dengan kru lain di Padang untuk selanjutnya melaksanakan Ekspedisi Sabang. Tim akan meneliti perairan pulau-pulau kecil di sebelah barat Aceh tersebut. Seluruh tim akan melaksanakan penelitian di bidang oseanografi dan biologi laut.

Kapal Riset Baruna Jaya VIII merupakan satu dari dua kapal riset milik LIPI. Kapal itu didesain untuk pelayaran jarak jauh dan bisa mengakomodasi kebutuhan laboratorium serta kebutuhan riset lain bagi 30 peneliti dan 23 awak kapal.

Berkaitan

Iskandar mengatakan, kedua ekspedisi memiliki tujuan yang saling berkaitan. Ekspedisi Widya Nusantara (Ewin) akan menyelami profil oseanografi dan potensi dari Samudra Hindia Timur. Yakni, menentukan proses biogeokimia di sana sebagai proses yang diatur oleh arus Equatorial Jet dan Arus Sumatera.

Pelaksana Tugas Deputi Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI Zainal Arifin menuturkan, perairan Sabang memiliki fenomena geologi unik yang membuat Ekspedisi Sabang dibutuhkan. “Di daerah ini terdapat gejala post-volcanism, khususnya di Pulau Weh, yang dicirikan dengan adanya lubang-lubang fumarol, solfatar, dan sumber air panas yang banyak dijumpai di lereng gunung, kaki gunung, tepi pantai, bahkan di dasar laut. Lubang fumarol di dasar laut merupakan fenomena geologi langka karena menyemburkan gelembung gas dan uap air,” ujarnya.

Sementara itu, Menteri Koordinator Kemaritiman Indroyono Soesilo berharap, ekspedisi kelautan yang dibuat LIPI menjadi salah satu langkah awal meningkatkan pemanfaatan kapal riset pemerintah.

content

Dari total 16 kapal riset yang dimiliki berbagai lembaga penelitian dan pengembangan pemerintah, pemanfaatan masih minim, terutama karena hari layar yang dianggarkan untuk setiap kapal hanya 20 hari dalam satu tahun. Pihaknya merumuskan program nasional terintegrasi untuk menambah frekuensi penggunaan kapal riset, termasuk untuk kegiatan eksplorasi minyak dan gas bumi.

Kapal Riset Baruna Jaya VIII yang digunakan untuk Ekspedisi Widya Nusantara dan Ekspedisi Sabang.
Kompas/Johanes Galuh BimantaraKapal Riset Baruna Jaya VIII yang digunakan untuk Ekspedisi Widya Nusantara dan Ekspedisi Sabang.

Sumber : KOMPAS

Leave a Reply