Spesies Baru Botani dan Hewani Diduga Ditemukan di Papua Barat

posted in: Lengguru | 0
papua barat
Papua–Antara/Saptono

Metrotvnews.com, Jakarta: Spesies baru baik spesies hewani dan botani, diduga ditemukan di Lengguru, Kabupaten Kainama, Papua Barat.

Tim ekspedisi yang merupakan gabungan dari peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan beberapa Universitas dari dalam dan luar negeri, menemukan jenis spesies baru yang didominasi sektor botani terutama anggrek dan tanaman hias.

Peneliti dan Pusat Penelitian (Puslit) LIPI Gono Semiadi mengatakan, para peneliti yang berjumlah 70 orang menelusuri tiga wilayah yaitu Arguni, Tritoni, dan Kumawa, di Kabupaten Kaimana. Kabupaten ini merupakan salah satu Kabupaten yang tergolong masih hijau dimana belum ada kegiatan perkebunan sawit dan pertambangan.

Gono mengatakan Bupati Kainama saat ini lebih memilih untuk mengembangkan perekonomian dengan membuka lahan bagi kepentingan masyarakat. Beberapa hasil penemuan spesies yang diduga baru antara lain adalah37 spesies kupu-kupu. Selain itu ditemukan 30 jenis amfibi dan 50 jenis reptil yang juga diduga baru.

“Salah satu kesulitan yang kami hadapi adalah panasnya cuaca. Akibat perubahan iklim, selama 36 hari di sana para peneliti hanya mengalami empat hari hujan. Selain itu koordinasi logistik, medan yang naik turun dan sungai-sungai, kondisi alam sering menjadi penghambat lajunya perjalanan,” jelasnya saat ditemui pada Jumat (28/11/2014).

Sementara itu dari sektor botani, dari 600 nomor spesimen yang ditemukan, 400 diantaranya adalah jenis tanaman anggrek. Sebanyak 400 spesimen tanaman anggrek tersebut sudah dikirim ke Kebun Raya Bogor dan Kebun Bilohi Wamena untuk dikembangbiakkan.

Peneliti Botani Puslit Biologi LIPI Lina Juswara mengatakan secara umum karakter dari spesies botani di Kainama sangat ditentukan oleh jenis ekosistemnya. Terdapat empat jenis ekosistem di Kainama yaitu pinggir pantai, pasang surut, sungai dan pegunungan rendah. Dengan adanya perbedaan tipe ekosistem maka jenis tumbuhannya berbeda. Tapi terkadang ada juga overlapping atau tumbuh tidak sesuai dengan ekosistemnya.

“Ada yang bisa tumbuh di dekat sungai padahal harusnya tidak. Karena ini eksplorasi awal maka kami tidak memiliki hipotesis awal. Ditemukan banyak jenis tumbuhan steril, hampir 400 spesimen anggrek yang dikasi ke Kebun Raya dalam keadaan steril,” jelas Lina kepada Media Indonesia.

Potensi terbanyak dari tanah Kainama, kata Lina, sejauh ini adalah untuk jenis tanaman hias karena mereka sangat mudah terlihat dan masih dalam keadaan steril. Namun penduduk setempat justru tidak banyak yang menggunakan potensi botaninya sebagai tanaman obat.

Lina menuturkan para peneliti sudah melakukan wawancara dengan masyarakat lokal dan mendapati masyarakat lokal tidak terlalu banyak menggunakan tanaman untuk obat. Padahal banyak jenis jambu-jambuan dan jahe-jahean yang ada disana.

Peneliti Molluska Puslit Oseanografi Ucu Yanuardi mengatakan, di dalam terumbu karang di laut Kainama ditemukan 141 spesies, 53 genus, 16 famili atau 13 stasiun hewan. Ucu menambahkan terumbu karang tidak berkembang dengan baik di perairan dekat daratan di Kainama. Namun perkembangannya di pulau kecil justru lebih baik.

Di laut dalam ditemukan Hiu Paus, Hiu Tokek, Hiu Martil, Hiu Karpet, Barakuda, Napoleon, Penyu, Lumba-lumba, Paus dan Dugong. Dalam satu kelompok, ia mengaku pernah meneemui 300 individu yang berada di dalamnya.

Peneliti I’Institut de Rechere pour le Developpement (IRD) Laurent Pouyaud mengatakan eksplorasi ilmiah yang berlangsung mulai 17 Oktober sampai dengan 20 November ini sudah bisa mengumpulkan data awal mengenai keanekaragaman hayati yang terdapat di daerah karst yang terletak di Papua Barat. Ekspedisi ini dilakukan di tiga jenis lingkungan yaitu darat, bawah tanah dan laut.

Penelitian di darat termasuk pengambilan sampel di sungai, danau, gunung dan beberapa tipe hutan mulai dari permukaan laut sampai di puncak anti klinal setinggi 1.400 meter. Sementara itu penelitian di bawah tanah dilakukan di gua dan jalur bawah tanah. Lalu penelitian di laut dilakukan dengan penjelajahan dan untuk pemetaan.

Terkait pembuktian penemuan spesies yang diduga baru, para peneliti belum dapat menjelaskan jenis spesies terbaru apa saja yang ditemukannya karena proses pembuktian menentukan itu butuh waktu. Gono mengatakan ketersediaan para ahli menjadi salah satu hambatan dalam proses pembuktian.

“Relatif antara kelompok jenis-jenis hewannya dan ketersediaan para ahli spesies. Kalau para ahli cukup banyak mungkin maka proses pembuktian bisa selesai dalam enam bulan sampai satu tahun keluar. Kalau ahlinya sedikit mungkin lebih dari satu tahun,” ungkapnya.

Ekspedisi ini diharapkan menjadi langkah awal untuk mengumpulkan data-data mengenai keanekaragaman hayati di Pulau Kepala Burung Cenderawasih tersebut. Tim ini menargetkan paling lambat dapat mengungkap spesies pada November 2015 mendatang.

Dari hasil penelitian, para peneliti akan memilah kelompok (takson) mana yang menjadi prioritas untuk diteliti lagi secara lebih fokus.

Peneliti Botani Puslit Biologi Lina Juswara pembuktian untuk sektor botani akan memakan waktu lebih lama lagi karena kebanyakan tanaman yang ditemukan masih dalam keadaan steril (belum berbuah dan berbunga). Pembuktian perlu menunggu tanaman ini berbunga. Lina menjelaskan diperlukan waktu sekitar satu sampai dua tahun untuk menunggu anggrek berbunga.

Artikel ini ditulis oleh METRO NEWS : Vera Erwaty Ismainy – 28 November 2014 19:16 wib

Leave a Reply