Temuan Diduga Spesies Baru

posted in: Lengguru | 0
pari
Ikan pari jenis harimau (potamotrygon tigrina) hasil tangkapannya di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh (ANTARA FOTO/Ampelsa)

PENELITIAN yang dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di dae rah Lengguru, Kaimana, Papua Barat, baru-baru ini menghasilkan sejumlah temuan, termasuk di antaranya puluhan spesies hewan dan tumbuhan yang diduga baru. “Beberapa hasil penemuan spesies yang diduga baru antara lain 37 spesies kupukupu, 30 amfibi, 50 reptil, dan sejumlah spesies anggrek serta tanaman hias,“ ujar peneliti dari Pusat Penelitian (Puslit) LIPI, Gono Semiadi, dalam jumpa pers di Jakarta, kemarin.

Temuan itu hasil dari Ekspedisi Ilmiah Lengguru yang dilakukan 17 Oktober-20 November 2014 lalu. Dugaan penemuan spesies baru itu, lanjut Gono, perlu pembuktian lebih lanjut. Ia mengatakan ketersediaan ahli menjadi salah satu hambatan dalam proses pembuktian mengingat untuk membuktikan suatu spesies hewan ataupun tumbuhan dibutuhkan ahli dengan bidang kepakaran yang sesuai dengan spesies tersebut.

“Kalau para ahli cukup banyak, proses pembuktian bisa selesai dalam enam bulan sampai satu tahun. Kalau ahlinya sedikit, mungkin lebih dari satu tahun. Namun, kami menargetkan paling lambat dapat mengungkap spesiesspesies ini pada November tahun depan,” terang Gono. Pada kesempatan sama, Peneliti Botani Puslit Biologi LIPI Lina Juswara mengatakan pembuktian untuk jenis botani dipastikan akan memakan waktu lebih lama lagi karena kebanyakan tanaman yang ditemukan masih dalam keadaan steril (belum berbuah dan berbunga).

“Pembuktian perlu menunggu tanaman ini berbunga. Diperlukan waktu sekitar satu sampai dua tahun untuk menunggu anggrek berbunga,” jelasnya.Keanekaragaman hayati Ekspedisi Lengguru dilakukan LIPI bekerja sama dengan I’Institut de Recherche pour le Developpement (IRD), Akademi Perikanan Sorong (Apsor), Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Kaimana, Universitas Negeri Papua, Universitas Cenderawasih, dan Universitas Musamus. Kaimana dipilih karena termasuk kabupaten yang tergolong masih hijau. Belum ada kegiatan perkebunan sawit dan pertambangan di sana. Dalam penelitian itu, 70 anggota tim menelusuri tiga wilayah yaitu Arguni, Tritoni, dan Kumawa. Ekspedisi itu dilakukan di lingkungan darat, bawah tanah, dan laut.

Di sektor tumbuhan, dari 600 spesimen yang ditemukan, 400 di antaranya jenis anggrek. Di laut dalam dijumpai hiu paus, hiu tokek, hiu martil, hiu karpet, ikan barakuda, napoleon, penyu, lumba-lumba, paus, dan dugong. “Salah satu kesulitan yang kami hadapi ialah panasnya cuaca. Selama 36 hari di sana para peneliti hanya mengalami empat hari hujan. Selain itu, koordinasi logistik, medan yang naik turun dan sungai-sungai sering menjadi penghambat perjalanan,” jelas Gono. Ia menambahkan ekspedisi tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk mengumpulkan data-data mengenai keanekaragaman hayati di Bumi Cenderawasih itu. “Dari hasil penelitian, para peneliti akan memilah kelompok mana yang menjadi prioritas untuk diteliti kembali secara lebih fokus,” kata Gono.

Artikel ini ditulis oleh MEDIA INDONESIA : Sabtu, 29 November 2014

Leave a Reply