Ekspedisi Enggano, ‘Bertarung’ dengan Perusakan Alam Hayati

posted in: Enggano | 0
Pulo enggano
Pulau Enggano, Bengkulu. [www.indonesia-tourism.com]

Penebangan kayu di hutan-hutan primer dan sekunder di Indonesia begitu masif dilakukan, di tengah makin gencarnya pembangunan hingga ke pelosok-pelosok Nusantara. Akibatnya, kekayaan hayati makin terancam kelesatriannya.

Karena itu, upaya mengamankan kekayaan hayati harus dilakukan berkejaran dengan waktu.

Salah satu sasaran Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada Ekspedisi Widya Nusantara 2015 adalah Pulau Enggano, Bengkulu.

Kepala LIPI Iskandar Zulkarnainmengatakan, sebagai pulau terluar yang secara geologi tidak pernah menyatu dengan Pulau Sumatera, pulau seluas 400,6 kilometer persegi (km2) dan berjarak sekitar 156 km dari Kota Bengkulu ini, memang beda.

“Enggano, Pagai, Siberut, Nias, Simeulue berbeda karena tidak pernah bersatu dengan Sumatera,” kata Iskandar.

Berbeda dengan Sulawesi, di mana Sulawesi Selatan menjadi lengan dari Kalimantan Selatan dan itu bisa dibuktikan dari kesamaan batuannya, sehingga melalui proses dinamika bumi terjadi pembukaan Selat Makassar yang menyebabkan flora dan faunanya relatif sama. Begitu pula dengan Sumatera, yang meski bukan merupakan satu segmen daratan yang homogen karena dari Bukit Barisan ke arah timur dengan yang arah barat berbeda, tapi sudah lama bersatu, sehingga flora dan fauna yang berumur ratusan tahun sudah sama.

Belum ada penelitian secara menyeluruh dan lengkap dari berbagai bidang ilmu untuk mengetahui kekayaan hayati, kondisi ekonomi, sosial, budaya, hingga geopolitik pulau berpenghuni hampir 3.000 jiwa yang berada di Samudera Hindia tersebut. Sementara pembukaan kawasan hutan dan mangrove oleh masyarakat maupun pemerintah untuk perkebunan dan infrastruktur semakin masif dilakukan dalam lima tahun terakhir.

Karena itu, ia sempat mengatakan penelitian terhadap pulau samudera yang diyakini memiliki tingkat endemisitas flora dan fauna yang tinggi dan terletak di jalur strategis perdagangan laut dunia ini menjadi penting. Dengan segala keunikan dan potensi alam serta budaya yang dimiliki, pengelolaan salah satu pulau kecil terluar yang menjadi beranda Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini harus menjadi perhatian serius Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Pemda).

Kepada tim Ekspedisi Enggano, Iskandar berpesan agar penelitian tidak melulu dilakukan terhadap sumber daya alam Enggano, tetapi peneliti sebisa mungkin selalu berinteraksi dengan masyarakat pulau tersebut, sehingga sebagai masyarakat pulau terluar mereka merasakan adanya dukungan.

“Saya yakin informasi yang mereka miliki terbatas, jadi kehadiran kita (peneliti) bisa diingat secara positif oleh masyarakat. Kalau kita hanya datang mengumpulkan sampel, tidak ada manfaat langsung yang dirasakan masyarakat,” lanjutnya.

Deputi Ilmu Pengetahuan Hayati (IPH) LIPI Enny Sudarmonowati mengatakan, sembilan peneliti bergabung dalam Ekspedisi Enggano. Merea berasal dari tiga kedeputian LIPI, yakni Kedeputian IPH dengan 46 peneliti, Kedeputian Ilmu Pengetahuan Kebumian (IPK) sebanyak 43 peneliti yang diwakili Pusat Penelitian Oseanografi (P2O), dan Kedeputian Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK).

Berbagai jenis dan spesies, alternatif pangan, obat, dan energi alternatif dari flora maupun fauna akan dicoba untuk ditemukan dan diteliti. Begitu pula arus laut, plankton, massa air, stok ikan tuna hingga cakalang di perairan Enggano juga dicoba untuk diteliti.

“Ada target penemuan 10 spesies baru. Tapi angka itu bisa berubah mengingat ekosistem Enggano yang berbeda dengan lainnya,” ujar dia.

Peneliti Kedeputian IPH melakukan penelitian selama 20 hari, peneliti Kedeputian IPK dengan menggunakan kapal riset Baruna Jaya III melakukan penelitian selama 11 hari, sedangkan peneliti Kedeputian IPSK melakukan penelitian selama 11 hari.

Menurut peneliti herpetologi pada Pusat Penelitian Biologi LIPI Amir Hamidy, yang menjadi Koordinator Peneliti Keanekaragaman Hayati dalam Ekspedisi Enggano, dari 20 hari masa penelitian, pengambilan sampel oleh tim peneliti IPH hanya dapat dilakukan selama 13 hari.

“Sisa harinya biasanya digunakan untuk ’treatment’ sampel, karena harus masuk laboratorium,” katanya.

Dinamika Enggano
Berkaitan dengan waktu, Amir mengatakan, dalam Ekspedisi Enggano aktivitas pembalakan di pulau kecil terluar itu cukup tinggi, selain juga pengalihfungsian hutan menjadi lahan perkebunan meluas, sehingga dikhawatirkan keanekaragaman hayati yang terkandung di dalamnya semakin cepat menghilang.

“Saya tidak tahu pasti apakah pembalakan yang saya lihat pada saat melakukan survei awal ekspedisi ada di kawasan hutan lindung atau tidak. Tapi yang jelas permintaan kayu itu ada, dan masalahnya permintaannya semakin banyak datang dari luar pulau,” ujar dia.

Alasan lain untuk segera melaksanakan ekspedisi di Pulau Enggano, menurut dia, karena masifnya pembukaan hutan untuk perkebunan pisang dan kakao terutama di bagian barat laut pulau. Dari citra satelit dapat terlihat tutupan vegetasi yang masih rapat ada di sisi selatan pulau.

Sering kali saat peneliti LIPI turun ke lapangan mendapat sampel, diteliti, lalu akhirnya dikukuhkan sebagai spesies baru di saat bersamaan habitat aslinya sudah hilang, kata Amir. Karena itu, sebelum spesies yang kemungkinan baru di Enggano hilang karena habitat aslinya terdegradasi, LIPI mencoba mengambilnya terlebih dulu.

Tidak hanya untuk perkebunan, tegakan-tegakan pohon di kawasan hutan sering kali harus dikorbankan demi pembangunan infrastruktur. Kondisi itu pun berlaku di Enggano di mana tutupan hutan, jalan, dan kebun masyarakat juga harus berganti dengan bandar udara.

Menurut Sekretaris Desa Banjarsari W R Setiawan, berdasarkan informasi dari Pemprov Bengkulu pembangunan landasan pacu bandar udara di Enggano memang diperpanjang agar dapat didarati pesawat berbadan lebar, termasuk pesawat C-130 Hercules untuk keperluan logistik dan evakuasi. Karena itu, sedikit hutan yang tersisa di ujung utara landasan pacu dan jalan yang saat ini menghubungkan Desa Banjarsari dengan desa lain di utara akan hilang.

“Jalan menuju Banjarsari dari Meok besok akan dibelokkan karena jalan yang sekarang sebenarnya masuk dalam areal bandara. Jalan baru yang akan menghubungkan Banjarsari dengan desa lain akan melalui hutan Bendung yang juga masuk dalam area penelitian tim LIPI,” ujar dia.

Potensi Keanekaragaman Hayati
Peneliti ikan air tawar pada Pusat Penelitian Biologi LIPI, Reny Kurnia Hadiaty mengatakan, potensi untuk menemukan spesies ikan air tawar baru di Enggano cukup besar, mengingat belum ada spesimen yang terkumpul dari pulau yang memiliki puncak tertinggi di Koho Buwa-buwa dengan ketinggian maksimal mencapai 240 meter atau 787 kaki dari permukaan laut.

Kemungkinan untuk mendapatkan spesimen ikan air tawar baru, menurut dia, semakin kuat karena pulau ini tidak pernah bersatu dengan Pulau Sumatera. Sehingga kemungkinan besar banyak ikan-ikan endemik teridentifikasi dalam Ekspedisi Enggano kali ini.

Upaya pencarian spesies ikan air tawar baru di wilayah barat laut Enggano dalam ekspedisi lintas bidang ini dilakukan di sekitar hutan di Kampung Bendung. Menurut Reny, kondisi alam di sekitar aliran Sungai Enggano masih cukup baik, dan belum pernah ada aktivitas manusia yang menggunakan racun.

Sedangkan peneliti burung pada Pusat Penelitian Biologi LIPI Hidayat Ashari mengatakan, saat melakukan survei di hari pertama tim peneliti burung telah berhasil menemukan sejumlah burung endemis Pulau Enggano.

“Yang sudah terlihat subspesies Long-tailed Parakeet (Psittacula longicauda), Enggano scops-owl, dan burung kacamata Enggano atau Pleci Enggano,” katanya.

Selain itu, tim peneliti juga menemukan burung jenis anis enggani atau Enggano trush (Zoothera leucolaema). “Masih diduga ya, harus dipastikan lagi nanti,” ujarnya.

Hidayat mengatakan, beberapa burung pantai yang bermigrasi dari genus gajahan juga terlihat, termasuk beberapa burung introduksi seperti perkutut dan burung pipit juga terlihat di Enggano.

“Burung-burung ini tidak memiliki kemampuan untuk menjelajah lautan. Karena itu kemungkinan terbesar keberadaan mereka di pulau karena memang dibawa, atau terbawa kapal perintis yang rutin datang ke Enggano,” ujarnya.

Dalam Ekspedisi Enggano, tim peneliti burung akan bekerja sama dengan tim peneliti kelelawar. Tim peneliti burung fokus mencari sampel burung-burung endemis Pulau Enggano, seperti anis enggano, kacamata enggano, dan Enggano scops-owl.

“Pemetaan jalur lintasan burung di wilayah barat laut Pulau Enggano kami lakukan sejak hari pertama. Jalur-jalur lintasan burung ini biasanya ada di punggungan gunung dan di jalur lintasan di hutan,” ujar dia.

Sementara itu, peneliti mikrobiologi pada Pusat Penelitian Biologi LIPI Rini Reffiani mengatakan, tipe vegetasi yang mengarah ke barat laut Pulau Enggano cukup beragam. Meskipun pada daerah yang mayoritas transmigran tersebut lebih banyak spesies tumbuhan invasif yang bukan asli alam Enggano.

“Tetapi untuk ukuran mikrobiologi kondisi itu tetap bisa jadi potensi,” ujar dia.

Tim peneliti mikrobiologi LIPI bergerak bersama dengan peneliti biomaterial dan bioteknologi untuk mendapatkan sampel dalam Ekspedisi Bioresources kali ini. Sampel berupa daun kering, serasah, daun, bunga, hingga buah yang berhasil didapat langsung dipersiapkan sedemikian rupa hingga akhirnya dapat segera diteliti.

Masih ada tim peneliti botani, ekoligi, etnobotani, kebun raya, dan peneliti lainnya yang juga ikut serta dalam Ekspedisi Enggano dan langsung bekerja mengumpulkan sampel untuk diteliti di laboratorium LIPI. Harapannya, dari beratus-ratus hingga ribuan sampel yang dibawa untuk diteliti lebih lanjut akan ada penemuan spesies baru. [Ant/N-6]

Sumber : SUARA PEMBARUAN

Leave a Reply