Kelompok Botani Menginap di Hutan Koho Buwa-buwa

posted in: Enggano | 0
kelompok botani
Peneliti dari kelompok botani Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mendata koleksi jenis tumbuhan yang diperoleh di hutan primer di Desa Meok, Pulau Enggano, Bengkulu, Minggu (19/4). Sebanyak delapan anggota kelompok botani dan Ekspedisi Widya Nusantara 2015 bermalam di hutan Koho Buwa-buwa untuk memperbesar peluang mendapatkan koleksi spesies-spesies endemis serta spesies baru di Pulau Enggano. 

ENGGANO, KOMPAS — Sebanyak delapan peneliti botani atau tumbuh-tumbuhan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia pada Kamis (23/4) pagi ini berangkat ke Hutan Lindung Koho Buwa-buwa di Pulau Enggano, Bengkulu. Mereka akan menginap selama tiga malam di sana untuk mengeksplorasi spesies-spesies tumbuhan yang ada, dengan target menemukan spesies endemis Enggano serta spesies baru.

Hutan Lindung Koho Buwa-buwa merupakan area berbukit-bukit, dengan puncak tertinggi mencapai 281 meter yang sekaligus titik tertinggi di Pulau Enggano. “Karena lokasi hutan cukup dalam, semoga kami bisa mendapatkan jenis-jenis tumbuhan baru,” tutur Koordinator Kelompok Botani Eksplorasi Bioresources Indonesia 2015 Abdulrokhman Kartonegoro, Kamis (23/4), di Desa Malakoni, Enggano, sebelum tim berangkat.

Kegiatan eksplorasi tersebut merupakan bagian dari Ekspedisi Widya Nusantara 2015 oleh LIPI dengan tujuan mendata jenis-jenis flora, fauna, dan mikroorganisme yang ada di Pulau Enggano, pulau terluar Provinsi Bengkulu, di area Samudra Hindia. Selain itu, eksplorasi juga berupaya mengungkap potensi pemanfaatan sumber daya hayati dari pulau ini.

Abdulrokhman menambahkan, tim yang berangkat ke Koho Buwa-buwa terdiri dari dua anggota staf botani Pusat Penelitian Biologi LIPI serta enam orang dari Kebun Raya Bogor, Cibodas, dan Bali. Mereka berangkat menggunakan mobil bak terbuka dari Malakoni ke Desa Meok, kemudian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki hingga hutan yang dituju.

Menurut informasi penduduk setempat, perjalanan dengan berjalan kaki akan menempuh jarak 12 kilometer dan waktu 4 jam. Namun, karena tim membawa serta peralatan penelitian dan logistik, kemungkinan tim akan berjalan 6 jam hingga mencapai Koho Buwa-buwa pada sore hari.

Perlindungan ketat

Ahli taksonomi palem dan pandan LIPI, Ary P Keim, mengatakan, dengan potensi keanekaragaman hayati yang tinggi di Koho Buwa-buwa, seharusnya hutan tersebut mendapatkan perlindungan yang lebih ketat. Ia khawatir sebab wewenang perlindungan Hutan Lindung Koho Buwa-buwa ada pada Pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara melalui dinas kehutanan. “Jika bisa di bawah BKSDA (Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam), yang dikoordinasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, kekuatannya lebih besar,” ujarnya.

Ary tidak yakin hutan yang belum terjamah tersebut bisa bertahan dalam 10 tahun mendatang mengingat ancaman perluasan pemanfaatan lain, seperti perkebunan atau hutan produksi, semakin nyata. Saat ini pun area hutan tersebut dikelilingi kawasan hutan produksi terbatas atau HPT, kecuali area yang berbatasan dengan Taman Buru Gunung Nanua.

Abdulrokhman menuturkan, tim dari Bidang Botani Pusat Penelitian Biologi LIPI sudah mengoleksi sekitar 170 individu tumbuhan tinggi dan 150 individu tumbuhan rendah (contohnya jamur dan paku-pakuan). Sementara itu, tim kebun raya mengoleksi sekitar 120 individu tumbuhan hidup. Dengan eksplorasi di Koho Buwa-buwa yang masih berupa hutan alami, peluang mendapatkan jenis-jenis yang khas Enggano serta jenis baru yang belum pernah dipublikasikan dapat terbuka lebih lebar.

Selain tim yang ke Koho Buwa-buwa, kelompok botani juga memiliki enam anggota yang pada Kamis ini pergi ke hutan di area Kampung Bendung, Desa Banjarsari. Tujuannya, mengoleksi sampel tumbuhan di hutan yang saat ini juga sedang dieksplorasi oleh kelompok zoologi (hewan) tersebut. Namun, menurut Abdulrokhman, tim dari kelompok botani yang ke Bendung tidak perlu menginap.

Peneliti dari kelompok botani Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)  mendata koleksi jenis tumbuhan yang diperoleh di hutan dekat pantai, di Desa Meok, Pulau Enggano, Bengkulu, Minggu (19/4). Sebanyak delapan anggota dari kelompok botani  dan Ekspedisi Widya Nusantara 2015 bermalam di hutan Koho Buwa-buwa untuk memperbesar peluang mendapatkan koleksi spesies-spesies endemis serta spesies baru di Pulau Enggano.
Kompas/Johanes Galuh Bimantara
Peneliti dari kelompok botani Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengambil sampel kayu di hutan dekat pantai di Desa Meok, Pulau Enggano, Bengkulu, Minggu (19/4). Sebanyak delapan anggota dari kelompok botani dan Ekspedisi Widya Nusantara 2015 bermalam di hutan Koho Buwa-buwa untuk memperbesar peluang mendapatkan koleksi spesies-spesies endemis serta spesies baru di Pulau Enggano.
Kompas/Johanes Galuh Bimantara

Sementara itu, anggota tim yang tergabung dalam kelompok mikrobiologi juga berencana meninggalkan Desa Malakoni pada Kamis ini. Mereka akan ke Desa Kahyapu pada siang hari dan mulai berkegiatan pada Jumat (24/4) untuk pengambilan sampel mikroorganisme di kawasan hutan mangrove.

Peneliti dari kelompok botani Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mendata koleksi jenis tumbuhan yang diperoleh di hutan dekat pantai di Desa Meok, Pulau Enggano, Bengkulu, Minggu (19/4). Sebanyak delapan anggota dari kelompok botani dan Ekspedisi Widya Nusantara 2015 bermalam di hutan Koho Buwa-buwa untuk memperbesar peluang mendapatkan koleksi spesies-spesies endemis serta spesies baru di Pulau Enggano.
Kompas/Johanes Galuh Bimantara
Peneliti dari kelompok botani Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mendata koleksi jenis tumbuhan yang diperoleh di hutan dekat pantai di Desa Meok, Pulau Enggano, Bengkulu, Minggu (19/4). Sebanyak delapan anggota dari kelompok botani dan Ekspedisi Widya Nusantara 2015 bermalam di hutan Koho Buwa-buwa untuk memperbesar peluang mendapatkan koleksi spesies-spesies endemis serta spesies baru di Pulau Enggano.
Kompas/Johanes Galuh Bimantara

 

Sumber : KOMPAS

 

 

 

Leave a Reply