Melawan Keterbatasan, Menyelamatkan Keragaman Spesies

posted in: Enggano | 0
SALAK
Tim Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia mengoleksi salak endemis Enggano yang sementara ini bernama Salacca sp., di hutan primer Desa Meok, Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu, Minggu (19/4). Pencarian spesies endemis dan spesies baru, baik flora, fauna, maupun mikrobiologis, menjadi target dalam Ekspedisi Widya Nusantara 2015 ke Pulau Enggano.

“Coba ekspedisi tidak hanya 20 hari, tidak akan begini jadinya,” keluh Hidayat Ashari, ahli ornitologi (burung) dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Sabtu (18/4) malam, di sebuah rumah warga di Pulau Enggano, Bengkulu. Ia saat itu sedang dalam pembahasan rencana kegiatan penelitian keesokan hari. Rapat per kelompok beberapa kali dilakukan, berulangnya perubahan rencana tidak terhindarkan, dan itu semua karena harus menyesuaikan waktu ekspedisi riset yang terbatas.

Hidayat masuk dalam kelompok besar peneliti zoologi pada ekspedisi Eksplorasi Bioresources Indonesia 2015 di Enggano, yang merupakan bagian dari Ekspedisi Widya Nusantara 2015 Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Dua kelompok yang lain adalah peneliti botani atau tumbuh-tumbuhan dan kelompok mikroorganisme.

Malam itu, rapat koordinasi berlangsung sekitar tiga jam, pukul 20.00-23.00. Rapat mungkin bakal lebih lama seandainya tidak ada pembatasan aliran listrik karena hanya ada generator berbahan bakar solar untuk penerangan di Desa Malakoni, tempat berkumpul tim ekspedisi. Pembahasan alot pun terlihat dari rapat kelompok zoologi.

Awalnya, kelompok ini sudah mantap untuk menjelajahi hutan di bukit Koho Buwa-buwa karena dengan topografi yang bertebing-tebing dan kondisi hutan yang masih asli memberi indikasi kuat adanya spesies-spesies unik. Namun, perjalanan darat menuju lokasi yang harus melewati medan berat membuat tim harus menyediakan waktu lebih banyak, hanya untuk perjalanan. Setelah menghitung mundur dari tanggal 2 Mei, yakni jadwal kepulangan mereka, perjalanan darat tidak memungkinkan.

Perjalanan via laut menjadi alternatif, tetapi sangat berisiko bagi keselamatan tim mengingat cuaca dan gelombang di pulau ini tidak menentu. Akhirnya, rapat memutuskan, lokasi sasaran awal diganti ke yang lebih mudah dijangkau dan pasti lebih aman, yakni hutan di area Desa Meok.

Hidayat menuturkan, jumlah hari efektif untuk kegiatan penelitian kemungkinan hanya 10 hari dari total 20 hari ekspedisi. Sebanyak 10 hari lainnya dialokasikan untuk kegiatan nonpenelitian, seperti mengurus perizinan, administrasi, dan transportasi dari Pelabuhan Baai, Kota Bengkulu, ke Pelabuhan Kahyapu di Enggano (pergi-pulang).

Ia membandingkan dengan pengalaman ekspedisi lain bersama koleganya dari Prancis ke Lengguru, Papua Barat, akhir tahun lalu. Ekspedisi menghabiskan total 40 hari dengan waktu penelitian efektif hanya 14 hari, tetapi hal itu memberikan waktu cukup untuk kegiatan-kegiatan nonpenelitian, yang memengaruhi bisa tidaknya penelitian dilaksanakan. “Saya pun bisa mengumpulkan koleksi burung dengan jumlah representatif dan juga ada beberapa spesies yang sangat menarik karena kami mendapatkan lokasi yang tepat,” katanya.

Minim anggaran

Waktu penelitian yang amat singkat di Enggano diturunkan dari masalah keterbatasan anggaran bagi kegiatan riset, terutama yang membutuhkan perjalanan ke alam liar. “Tahun ini ada pengurangan 46 persen untuk anggaran perjalanan dinas. Kegiatan ekspedisi riset jadi salah satu yang terdampak karena digolongkan sebagai perjalanan dinas,” tutur koordinator utama Eksplorasi Bioresources Indonesia 2015, Amir Hamidy.

content

Pemerintah seharusnya membedakan ekspedisi penelitian dari perjalanan dinas aparatur sipil negara lainnya yang hanya berkegiatan di dalam gedung. Amir mencontohkan, biaya kegiatan ekspedisi di Enggano mengacu pada penetapan biaya untuk kegiatan di Provinsi Bengkulu. Padahal, biaya di pulau yang cukup terisolasi ini beberapa kali lipat lebih tinggi daripada di Kota Bengkulu, seperti bensin yang biasanya Rp 6.800 per liter menjadi Rp 15.000 per liter di Enggano.

"</p

Staf Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia mendokumentasikan Ixora engganense atau tanaman bunga soka endemis Enggano, di hutan primer Desa Meok, Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu, Minggu (19/4). “

 

Standar biaya umum per mata anggaran juga menjadi tantangan bagi tim mengingat pengeluaran untuk kegiatan di alam sewaktu-waktu bisa berubah, sedangkan ada batas maksimal pengeluaran yang tidak bisa ditoleransi walaupun masih ada sisa biaya di mata anggaran lain. Menurut Amir, ketentuan tersebut positif untuk pengendalian, tetapi pemerintah tidak menyesuaikan kondisi langsung di lapangan yang berbeda.

Peneliti paku-pakuan pada Kebun Raya Bali yang juga anggota tim ekspedisi, Bayu Adjie, menambahkan bahwa biaya sosial seharusnya juga menjadi pertimbangan, apalagi para peneliti bertaruh nyawa dalam melaksanakan riset. Kondisi itu tergambar saat Kompas ikut serta dengan rombongan peneliti ke hutan primer di Desa Meok, Minggu (19/4).

Peneliti yang berasal dari Kebun Raya Bali, Kebun Raya Bogor, dan Kebun Raya Cibodas sempat tersesat, padahal saat itu sudah sekitar pukul 15.00. Bayu sudah khawatir rombongan tidak bisa keluar dari hutan tersebut sebelum gelap. “Itu baru hutan yang di kanan-kirinya ada kebun pisang, belum seperti hutan yang ada di Koho Buwa-buwa,” katanya.

Strategi “pemasaran”

Dalam pendapat ahli taksonomi palem dan pandan LIPI, Ary P Kiem, kondisi itu juga diakibatkan belum mampunya LIPI “menjual” riset-risetnya kepada penentu anggaran, terutama kepada Dewan Perwakilan Rakyat. “Anggota DPR itu tidak terlalu paham keanekaragaman hayati dan spesies baru. Yang lebih dipahami adalah apa manfaat dari keanekaragaman hayati itu,” ujarnya.

Sebab, manfaat terkait dengan pertanyaan berapa rupiah bisa diperoleh negara sehingga berlanjut pada berapa rupiah yang bisa digunakan untuk pembangunan. Dengan demikian, lanjut Ary, LIPI seharusnya berbenah di sektor humas agar bisa “memasarkan” dan meyakinkan DPR untuk mendorong investasi lebih besar bagi penelitian keanekaragaman hayati Tanah Air yang tergolong paling tinggi di dunia.

Logikanya, keanekaragaman hayati yang tinggi berarti sumber daya hayati juga lebih tinggi, sumber daya hayati bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat, misalnya sumber pangan, obat, dan energi. Sesuatu yang bermanfaat bisa digunakan untuk menghasilkan pendapatan sehingga meningkatkan kemakmuran rakyat.

“Karena itu, untuk selanjutnya, LIPI perlu orang yang mampu menghitung berapa rupiah, bahkan berapa juta dollar AS, potensi pendapatan negara dari setiap pemanfaatan hasil riset yang akan dilakukan,” tutur Bayu.

Sumber : KOMPAS

Leave a Reply