Ungkap Flora Fauna Endemik, LIPI Lakukan Ekspedisi Enggano dan Tambora

posted in: Enggano, Tambora | 0
Ungkap
Gunung Tambora. (nassrgrads)

Jakarta - Tim peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) siap memulai ekpedisi NKRI di dua lokasi yakni Pulau Enggano dan Gunung Tambora guna mengungkap flora, fauna endemik, serta budaya unik masyarakat.

Kepala LIPI Iskandar Zulkarnain mengatakan ekspedisi yang melibatkan hampir 102 peneliti ini merupakan riset gabungan peneliti ilmu pengetahuan hayati (IPH), kebumian (IPK) dan sosial kemasyarakatan (IPSK).

“Pulau Enggano tidak pernah bersatu dengan Sumatera. Flora dan Fauna di Enggano pun belum tentu sama. Bahkan penduduknya pun bukan berasal dari Sumatera,” katanya di sela-sela pelepasan Ekpedisi Enggano dan Ekspedisi NKRI di kantor LIPI, Jakarta, Rabu (15/4).

Pulau Enggano secara administratif masuk Provinsi Bengkulu. Namun untuk sampai ke pulau itu harus ditempuh menggunakan kapal hampir 12 jam dengan situasi ombak normal dan hampir 17 jam jika ombak tidak bersahabat.

Iskandar menambahkan Pulau Enggano merupakan pulau yang ramai dilintasi pelayaran internasional.

“Perlu penelitian untuk melihat potensi apa yang ada di situ. Apakah ada potensi sumber daya alam hayati dan bagaimana ketersediaan air tawar. Serta apakah ada potensi spesies di sana untuk pangan atau obat,” paparnya.

Deputi Ilmu Pengetahuan Hayati Enny Sudarmonowati mengungkapkan ekspedisi ini menargetkan temuan 10 spesies baru.

Di Tambora misalnya banyak jenis lumut, paku-pakuan, serangga. Begitu juga Enggano yang memiliki endemisitas tinggi.

“Sumber daya alam hayati di Pulau Enggano belum banyak diketahui. Pengumpulan data tentang keanekaragaman hayati (bioresources) Pulau Enggano sangat penting untuk dilakukan sebagai langkah awal dan landasan pemanfaatan bioresources untuk kepentingan bangsa atau bioprospecting,” paparnya.

Untuk ekspedisi Gunung Tambora Kopassus TNI AD selaku inisiator ikut terlibat. Gunung Tambora yang terletak di Pulau Sumbawa telah menorehkan sejarah dalam peradaban manusia 200 tahun lalu. Tahun ini merupakan peringatan 200 tahun letusan Tambora dan lokasi tersebut resmi ditetapkan sebagai Taman Nasional beberapa waktu lalu.

Letusan amat dahsyat gunung setinggi 2800 meter di atas permukaan laut ini menyebabkan tahun tanpa musim panas di daratan Eropa.

Selama 15 hari 16 peneliti terjun ke Tambora melakukan riset dengan dana sekitar Rp 300 juta. Sedangkan untuk ekpedisi Pulau Enggano tim ekspedisi datang bergiliran dengan durasi penelitian yang bervariasi.

Lima puluh peneliti IPH melakukan riset selama 20 hari, 43 peneliti IPK 11 hari merapat ke Pulau Enggano menggunakan Kapal Riset Baruna Jaya 8 milik LIPI. Di samping itu terdapat pula 9 peneliti IPSK meriset selama 11 hari dengan total dana sekitar Rp 500-700 juta. Rencananya hasil ekspedisi ini dipaparkan September mendatang.

Sumber : Berita Satu

Leave a Reply